Setiap UN, yang waswas bukan hanya murid, orang tua, atau wali murid pasti juga bingung atau waswas
Senayan - Para wali murid SDN Gadel 2, Surabaya, Jawa Timur, mendemo orangtua AL, salah seorang siswa yang diminta memberi contekan kepada teman-temannya saat Ujian Nasional (UN). Di mata anggota Komisi X DPR Djamal Aziz, demo itu dilakukan akibat ketakutan para wali murid jika anak-anaknya tidak lulus ujian.
"Kalau yang menyampaikan kebenaran malah didemo, mereka tidak salah. Karena mereka kan ketakutan. Orang takut itu kan menghalalkan segala cara. Harapannya putus, ya sudah dia bersikap ramai-ramai," kata Djamal kepada Jurnalparlemen.com, Senin (13/6).
Faktor ekonomi juga berpengaruh pada munculnya demonstrasi tersebut. "Mereka itu kan orang-orang yang melarat.
Setiap UN, yang waswas bukan hanya murid, orang tua, atau wali murid pasti juga bingung atau waswas. Apalagi yang ekonominya lemah. Kalau sampai anaknya tidak lulus, dia harus bayar lagi sekolahnya, bukunya, waktunya, dan lain sebagainya. Makanya mereka punya sikap seperti itu," kata Djamal.
Seperti diketahui, Siami, salah seorang wali murid melaporkan SDN Gadel 2 Surabaya kepada Dinas Pendidikan Kota Surabaya karena dicurigai melakukan praktik mencontek secara massal dengan memanfaatkan putra Siami untuk menyontek. Upaya Siami justru berbuah protes. Kini ia memilih mengasingkan diri.
Menurut Djamal, tidak perlu ada sanksi terhadap demonstrasi ini. Namun, harus diambil hikmah dari peristiwa tersebut agar segala sesuatu yang bersifat membumi atau yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat banyak itu sosialisasinya harus betul-betul efektif. "UN ialah suatu keputusan yang bersifat skala nasional, tapi sosialisasinya malah belum sampai ke tingkat nasional," kata politisi Partai Hanura tersebut.
dikutip dari : JurnalParlemen.com
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
