Senayan - Pergantian pelatih Tim Nasional Sepakbola Indonesia dari Alfred Riedl ke Wim Rijsbergen dikomentari anggota Komisi X DPR Djamal Aziz. Menurut Djamal, risiko dari pergantian yang dilakukan secara mendadak itu ada di tangan pengurus baru PSSI.
"Saya tidak pernah menyayangkan, itu wewenang pengambil keputusan. segala keputusan yang diambil risiko ada pada dia. Kalau saya menyayangkan, dia lebih tahu, gimana?" kata Djamal kepada Jurnalparlemen.com, Jumat (15/7).
Namun, Djamal mengingatkan, oleh publik Alfred Riedl dianggap cukup berhasil dan kontraknya pun akan berakhir tahun depan. "Kok tahu-tahu ada sikap seperti ini?" ujarnya, heran.
Politisi Partai Hanura itu merasa tidak yakin keputusan yang begitu singkat dan drastis akan membuahkan apa yang kita harapkan. "Tapi saya berdoa mudah-mudahan ini berhasil. Karena ini mengangkat nama bangsa," kata Djamal yang pada Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo, Jawa Tengah, tidak terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI.
Seperti diketahui, Rabu (13/7), PSSI memecat Riedl dari jabatan pelatih Timnas Indonesia. PSSI beralasan kontrak Riedl dilakukan secara personal. Namun, belakangan hal itu dibantah oleh pengurus lama PSSI. Pergantian itu memang terkesan mendadak. Apalagi, Timnas Indonesia akan menghadapi Turkmenistan pada 23 dan 28 Juli 2011 pada putaran kedua Pra Piala Dunia 2014.
dikutip dari : JurnalParlemen
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
