Liga Primer Indonesia (LPI) yang lahir untuk menyemarakkan kompetisi sepakbola di Tanah Air perlu didukung untuk semakin menjadikan sepakbola sebagai sebuah industri. Namun LPI juga perlu memikirkan agar klub yang bertanding di LPI dari satu daerah cukup satu klub, sehingga lebih menggairahkan daerah tersebut untuk menyedot penonton dan menjadi pemacu bagi anak-anak muda di daerah untuk bersaing masuk ke dalam suatu klub.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi X dengan jajaran LPI di Gedung DPR-RI Senayan, Jakarta, Selasa (1/3), anggota DPR dari Fraksi Partai Hanura Djamal Aziz mengatakan, LPI masih perlu membuktikan akte lahirnya agar secara legalitas bisa diakui keberadaannya.
“Selain itu LPI juga masih perlu membuktikan, apakah kompetisi yang digelar saat ini bisa bertahan terus atau cuma satu putaran saja. Sebagai bayi yang baru lahir, LPI masih perlu membuktikan eksistensinya, jangan sampai hanya panas-panas tahi ayam,” ujarnya.
Secara manajemen dan industri, LPI cukup menggiurkan, apalagi tidak mengharapkan dana dari pemerintah. Setiap klub dipacu untuk berprestasi sehingga diharapkan mampu menggaet penonton sebanyak-banyaknya dalam setiap pertandingan.
“Kita mendukung LPI, namun juga harus bisa segera membuktikan statusnya. Sepakbola di Tanah Air harus terus maju, dan mampu berprestasi di tingkat internasional,” tegas Djamal Aziz. (syam batubara)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
