"Memang harus dihindari dan dicari siapa yang melakukan aksi provokasi,"
Senayan - Semua pihak hendaknya harus menghindari provokasi, pasca bentrokan yang terjadi antara wartawan dan siswa SMA 6 Jakarta. Baik wartawan maupun pihak sekolah harus sama-sama melakukan evaluasi dan instrospeksi. Bila tidak, hal itu akan membuat persoalan menjadi semakin buruk, dan jauh dari solusi persoalan.
"Memang harus dihindari dan dicari siapa yang melakukan aksi provokasi," kata Hal itu dikatakan anggota Komisi X dari Hanura Djamal Aziz di gedung Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (20/9).
Dari kronologi yang diketahui Djamal, peristiwa bentrokan wartawan dengan siswa SMA 6 itu terjadi beberapa saat setelah wartawan melakukan demonstrasi di depan gerbang SMA 6 Jakarta. Siswa dan pihak sekolah yang mengetahui hal itu merasa bahwa institusi mereka sedang dalam bahaya karena akan diberitakan buruk.
Dengan logika yang dimiliki, siswa SMA itu kemudian mereaksi dengan cara menyerang wartawan. Bagi Djamal, tindakan yang paling tepat bagi wartawan adalah melakukan dialog dengan pihak sekolah SMA untuk menjelaskan posisi wartawan. Namun demikian, bentrokan itu juga menciptakan coreng bagi dunia pendidikan. Apalagi, siswa SMA 6 itu adalah siswa pilihan. "Kalau yang di SMA negeri saja sudah seperti ini, bagaimana dengan yang di sekolah swasta," ujarnya.
Untuk itu Djamal meminta, pihak pengelola sekolah hendaknya melakukan evaluasi dari kegiatan para siswa yang selama ini dilakukan. Dugaan Djamal, masih terlalu banyak waktu kosong yang membuat siswa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat di luar sekolah. "Guru dan orang tua harus memperhatikan ini, karena pembinaan di luar sekolah juga menjadi hal penting untuk menghindarkan siswa pada kegiatan yang tidak berguna, seperti tawuran," tandasnya.
dikutip dari : JurnalParlemen.com
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
