JAKARTA - Keputusan PSSI untuk menggelar kompetisi dengan 24 kontestan membuat banyak pihak meradang. Kebijakan tersebut dianggap sebagai hal yang melukai semangat profesionalisme serta kejujuran sepakbola Indonesia. Beberapa klub pun menyatakan tak akan tinggal diam dengan keputusan controversial tersebut.
"Persija sendiri memang tidak setuju kalau Persebaya ikut kompetisi. Kalau mau ikut kompetisi haruslah melalui jalan yang benar," terang Ferry Paulus, perwakilan PT Persija Jaya Jakarta saat ditemui setelah diskusi sepakbola di Senayan, Jakarta, Selasa (27/9) sore.
Persebaya bersama lima klub lainnya seperti PSMS Medan atau Persema Malang memang terus menjadi sorotan. Itu karena klub tersebut sengaja dikatrol dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya PSSI berdalih bahwa kebijakan tersebut karena permintaan sponsor serta faktor sejarah dan suporter yang dimiliki klub-klub itu.
Padahal, semestinya klub-klub tersebut tak boleh berada di kompetisi tertinggi musim mendatang dengan berbagai alasan. PSMS, misalnya. Klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut tak mampu meraih tiket promosi. Pun dengan Persema Malang atau Persibo yang bahkan membelot ke Liga Primer Indonesia (LPI).
"Pasti akan ada bom waktu. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya. Klub-klub ISL juga terus berkoordinasi. Ada banyak klub yang menjalin komunikasi. Tapi kalau kompetisi tetap 18 klub, bom waktu itu tidak akan meledak," terang lelaki yang juga pemilik SSB Villa 2000 tersebut.
Sikap keberatan juga diungkapkan manajer Pelita Jaya Purwakarta Lalu Mara Satria Wangsa. Dia menganggap, keputusan PSSI untuk mengikut sertakan 24 klub ibarat berjudi dengan nyawa. Pasalnya, akan ada banyak pertandingan yang mesti dijalani para pemain. Belum lagi jika para pemain tersebut mesti bertanding di Piala Indonesia.
"Para pemain tentu akan sangat kecapekan. Kalau terus terjadi apa-apa dengan pemain, misalnya meninggal karena kecapekan, siapa yang bertanggung jawab" ucap Lalu Mara.
Anggota Komisi X DPR RI Djamal Aziz juga ikut mengecam PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husein. Menurutnya, Djohar belum menunjukkan sisi profesionalisme yang sejak awal didengung-dengungkan.
"Sejak awal saya selalu bilang kalau Pak Djohar ini boneka cantik. Pasti ada yang menyuruhnya. Tidak mungkin tak ada dalangnya karena negara ini kan negara pewayangan," tegas anggota DPR dari Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tersebut.
PSSI sendiri tak mau berpolemik dengan berbagai kritik tersebut. Alasannya, mereka memilih untuk fokus mengelola liga musim mendatang.
"Ferry boleh bilang apa saja. Tapi kompetisi tetap harus jalan," tegas Eddi Elison, anggota Komite Media PSSI. (ru)
dikutip dari : JPNN.com
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
