Senayan - Sepakbola nasional kembali kisruh. Dualisme kompetisi sepakbola pun muncul yakni Indonesian Premier League (IPL) yang diakui PSSI dan Indonesia Super League (ISL) yang dijalankan oleh PT Liga Indonesia. Terakhir, PSSI menjatuhkan sanksi bagi delapan klub yang membelot dari IPL ke ISL. Bagaimana sikap anggota Komisi X yang juga bekas calon anggota Komite Eksekutif PSSI Djamal Aziz?
Menurut Djamal, pihaknya prihatin dengan kembali kisruhnya dunia persepakbolaan nasional. Sebagai anggota Komisi X, dia pun siap menerima pengaduan dari pihak-pihak yang merasa terzalimi oleh peraturan yang dibuat oleh otoritas sepakbola nasional.
"Komisi X bukan mitra PSSI. Tapi, DPR itu kan rumah rakyat. Maka, kalau ada rakyat yang haknya terzalimi oleh peraturan yang tidak sesuai, silakan mengadu ke kita," kata Djamal saat dihubungi Jurnalparlemen.com, Rabu (14/12).
Djamal menambahkan, pihak yang mengadu itu boleh saja dari para pemain, klub, atau komunitas yang ingin menyampaikan kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini. Selama ini, menurutnya, mereka hanya meminta audiensi lewat pesan singkat atau telepon.
Seperti diketahui, kemarin, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan hukuman kepada delapan klub yang membelot dari IPL. Kedelapan klub tersebut adalah Persib Bandung, Mitra Kukar, Persisam Samarinda, Persela Lamongan, Persiba Balikpapan, PSPS Pekanbaru, Deltras Sidoarjo, dan Pelita Jaya.
Selain itu, Komdis juga memproses sanksi untuk tiga klub Papua yakni Persipura Jayapura, Persidafon Dafonsoro, dan Persiwa Wamena. Status Sriwijaya FC, yang mengikuti kedua kompetisi yakni ISL dan IPL, juga akan dibahas.
dikutip dari : JurnalParlemen.com
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
